DIARE, Cara Pencegahan dan Pengobatannya

diare

Diare merupakan kata yang akrab sekali di teling kita, terutama bagi orang tua yang  memiliki anak Balita. Ditemukan Angka Kesakitan diare semua umur adalah 37 orang per 100 penduduk, sedangkan rata-rata Balita 1-2 kali diare setiap tahunnya. Kelompok usia dini ini juga lebih rentan terhadap kekurangan cairan dan garam tubuh (dehidrasi). Padahal dehidrasi yang tidak segera diatasi dapat menimbulkan kematian.
 Diare sendiri sebenarnya adalah kondisi dimana seseorang buang air besar (BAB) lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang terjadi lebih sering dari biasanya, dengan atau tanpa lendir/darah dalam tinja. Diare yang sangat serius tidak hanya menyebabkan dehidrasi, tapi juga kekurangan gizi. Pada balita yang sudah bergizi buruk atau kurang, diare jelas sangat berbahaya. 

Mengapa terjadi diare?
Di kebanyakan negara berkembang, tinginya prevalensi diare disebabkan oleh kombinasi mutu air yang tercemar dengan kekurangan protein dan kalori. Bakteri penyebab diare akan terdapat dalam tinja penderita diare. Bakteri kemudian menyebar lewat udara atau kontak langsung, menempel pada makanan, minuman, atau tempat makan yang dikonsumsi calon penderita. Beberapa perilaku yang meningkatkan risiko terkena diare adalah:
  1. Tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) saat bayi berumur 0 - 4 atau 6 bulan.
  2. Menggunakan botol susu. Botol susu tidak selalu mudah dibersihkan sehingga kuman bercokol di situ.
  3. Menggunakan air minum yang tercemar, baik dari sumbernya atau ketika dibiarkan tidak tertutup di rumah.
  4. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau membuang tinja anak.
  5. Tidak membuang tinja (termasuk tinja bayi) dengan benar.
  6. Menyimpan makanan terbuka (pada suhu kamar) selama beberapa jam.
Mencegah diare

Mengetahui cara diare menyebar, maka kiat utama memerangi diare adalah menjaga kebersihan air serta menggunakan jamban untuk BAB. Selanjutnya juga jaga kebersihan diri, makanan, minuman, dan tentunya alat makan. Semua ini hanya mungkin dapat dilakukan jika air yang digunakan bersih dari kuman. Cuci tangan dengan sabun diketahui mampu menekankemungkinan terkena diare hingga 35%.

Menghindari diare berarti mengkonsumsi air dan makanan yang bersih. Minum air dari sumber air yang tidak terkontaminasi. Selain dicuci bersih, makanan juga perlu dimasak hingga matang, dan dijaga kebersihannya dengan ditutup sebelum disajikan untuk disantap.

Untuk bayi, pencegahan diare dapat dilakukan dengan pemberian ASI dan memperbaiki mutu gizi maupun kebersihan makanan pendamping. Selain itu, buang tinja bayi ke dalam jamban, dan bersihkan sisa kotorang dengan antiseptik atau desinfektan. 

Jika terlanjur terkena diare

1. Cegah dehidrasi.
Pastikan masuknya cairan cairan dengan cukup. Minumlah banyak air, tentu saja air matang. Masukan air dapat juga berupa air tajin, atau kuah sayur.

2. Atasi dehidrasi.
Jika mata penderita mulai cekung, bibir kering, gelisah, rewel, lemas, dan kulit perut jika dicubit tidak lentur, lambat kembali, berarti sedang terjadi dehidrasi tingkat ringansedang. Bawa penderita ke sarana kesehatan untuk mendapatkan oralit selama 3 jam pertama. Bila membaik dan dapat pulang, berikan oralit setiap kali BAB. Seperempat gelas untuk anak usia dibawah satu tahun, dan setengah gelas untuk anak usia 1-4 tahun. Berikan satu gelas untuk anak usia lebih dari 5 tahun. Bila air kencing lebih pekat dan ujung jari tangan-kaki menjadi dingin, segera rujuk ke sarana kesehatan yang lengkap untuk mendapatkan pemberian cairan melalui infus.

3. Berikan makanan.
Tetap berikan makanan. Pada Balita yang masih minum ASI, berikan ASI lebih sering. Pada Balita yang minum susu formula, berikan susu lebih sering dari biasanya.

4. Obati masalah lain.
Jika ditemui penyakin lain selain diare, berikan pengobatan sesuai indikasi dengan tetap berusaha mengatasi dehidrasi.