CONTOH ASKEP . MAKALAH Osteodistrofi Ginjal



Osteodistrofi Ginjal
A. Konsep Medis
            Kesehatan dalam islam diistilahkan dengan al-sihhah ( aandyn04.blogspot.com  ), yakni
Artinya,” bersih dan tidak ada padanya penyakit”.
            Selanjutnya, dalam islam dikenal pula prinsip,

Artinya,” akal sehat berada pada tubuh yang sehat”.
            Dengan prinsip ini maka kesehatan menurut konsep Islam adalah berhubungan erat antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani atau badan jiwa. Dan Allah telah menentukan obat bagi penyakit yang diderita makhluk-Nya khususnya manusia dan Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah:286:

Artinya,” Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
            Dapatlah dipahami bahwa Islam sesungguhnya sangat menganjurkan pemeluknya untuk menjaga kesehatan dengan cara membersihkan batin dan termasuk membersihkan badan. Namun bilamana terlanjur sakit atau kena penyakit, dianjurkan segera berobat untuk sembuh.
            Salah satu dalil yang terkait dengan usaha pengobatan atau penyembuhan adalah Sabda Nabi SAW:

Artinya,”berobatlah wahai hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak membuat penyakit melainkan Allah (juga) menciptakan penawarnya, kecuali satu penyakit. Lalu ditanyakan,”apa penyakit itu, wahai rasulullah”? jawab beliau,”ketuaan……..”(hadist ini berkualitas sahih)
            Kata ya dalam hadits tersebut merupakan Harf Al-Nida yakni seruan atau panggilan kepada hamba Allah untuk berobat. Karena itu, dengan khusus kalimat seperti ini, maka dipahami bahwa berobat adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh hamba Allah yang mengalami sakit, aandyn04.blogspot.comatau ditimpa suatu penyakit. Karena berobat merupakan kewajiban dalam islam, maka bagi mereka yang sakit lalu tidak berobat, tentu saja baginya adalah dosa.
(H.M.Quraish Shihab, Tafsir al-Quran al-Karim;Tafsir Surah-surah pendek Berdasarkan Turunnya Wahyu)
           
Ginjal merupakan organ yang berbentuk  seperti kacang yang terletak dikedua sisi kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah di bandingkan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutup atasnya terletak setinggi iga ke duablas. Sedangkan kutup atas ginjal kiri terletak setinggi  iga sebelas . Ginjal menjalankan fungsi yang fital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah (dan lingkungan dalam tubuh) dengan mengekskresikan zat terlarut dan air secara selektif . Apabila kedua ginjal karena sesuatu hal gagal menjalankan fungsinya, akan terjadi kemtian dalam waktu tiga sampai empat minggu. Fungsi fital ginjal di capai dengan filtrasi plasma darah melalui glomelurus diikuti dengan reabsorbsi sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah yang sesuai di sepanjang  tubulus ginjal.(1)

Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerular (LFG) kurang dari 50 ml/menit (Suhardjono, dkk, 2001). Sedangkan menurut Mansjoer (2001) gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel. Menurut Brunner dan Suddarth (2001), gagal ginjal kronik atau penyakti renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible. Dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).aandyn04.blogspot.com(2)
            Osteodistrofi adalah gangguan rangka yang di sebabakan oleh ketidak seimbangan kalsium dan fosfat sehingga rangka tak mungkin terelakkan.(1)
Osteodistrofi adalah  kelainan tulang pada PGK yang terjadi akibat gangguan metabolisme mineral disebut sebagai osteodistrofi renal. Pada keadaan ini, ginjal gagal mempertahankan keseimbangan kadar kalsium dan fosfat dalam darah.(3)
            Osteodistrofi ginjal terdiri dari 3 lesi :
1. Orteomalasia
·         Ditemukan pada sekitar 60 % & penderita PGK
·         Tulang digantikan oleh jaringan osteoid yang memiliki struktur lemah dan mudah patah
·         Pada foto rontgen, kepadatan tulang berkurang, terutama pada tulang tangan, tulang tengkorak, tulang rusuk, dan tulang belakang
2. Osteitis fibrosa
·         Ditemukan pada sekitar 30% penderita PGK
·         Tulang digantikan oleh jaringan fibrosa (jaringan ikat) yang menyerupai kista (osteitis fibrosa cystica)
·         Pada foto rontgen tampak kepadatan tulang berkurang
3. Osteosklerosis
·         Kelainan ini paling jaragn ditemukan
·         Pada foto rontgen tampak sebagai garis-garis pada tulang belakang (ruger-jersey spine)(1,3)


B. Rumusan Masalah
1. Etiologi GGK
a.       Gromerulonefritis, merupakan peradangan gromerulus akibat pengendapan komplek Ag&Ab di kapiler-kapiler gromerulus.
Reaksi peradangan di gromerulus menyebabkan pengaktivan komplemen, sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas kapiler gromerulus dan filtrasi gromerulus. Protein-protein plasma dan sel darah merah bocor melalui gromerulus. Akhirnya membrane glomerulus rusak sehingga terjadi pembengkakan atau edema di ruang interstisium bowman.(2)
b.      Nefrosklerosis,merupakan adanya perubahan patologis pada pembuluh darah ginjal akibat hipertensi.
Hipertensi merupakan akibat pelepasan rennin atau peningkatan volume ekstrasluler (ECF) yang terjadi sekunder akibat penanganan garam dan air yang abnormal.(1)
c.       Nefropati diabetic, merupakan gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Sebagaimana diketahui, ginjal terdiri dari jutaan unit penyaring (glomerulus). Setiap unit penyaring memiliki membran/selaput penyaring. Kadar gula darah tinggi secara perlahan akan merusak selaput penyaring ini.

2. Faktor predisposisi
a. Kondisi prerenal (hipoperfusi ginjal)
Kondisi prerenal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan turunnya laju filtrasi glomerulus. Kondisi klinis yang umum adalah status penipisan volume (hemoragi atau kehilangan cairan melalui saluran gastrointestinal), vasodilatasi (sepsis atau anafilaksis), dan gangguan fungsi jantung (infark miokardium, gagal jantung kongestif, atau syok kardiogenik)

b. Penyebab intrarenal (kerusakan actual jaringan ginjal)
Penyebab intrarenal gagal ginjal akut adalah akibat dari kerusakan struktur glomerulus atau tubulus ginjal. Kondisi seperti rasa terbakar, cedera akibat benturan, dan infeksi serta agen nefrotoksik dapat menyebabkan nekrosis tubulus akut (ATN) dan berhentinya fungsi renal. Cedera akibat terbakar dan benturan menyebabkan pembebasan hemoglobin dan mioglobin (protein yang dilepaskan dari otot ketika cedera), aandyn04.blogspot.comsehingga terjadi toksik renal, iskemik atau keduanya. Reaksi tranfusi yang parah juga menyebabkan gagal intrarenal, hemoglobin dilepaskan melalui mekanisme hemolisis melewati membran glomerulus dan terkonsentrasi di tubulus ginjal menjadi faktor pencetus terbentuknya hemoglobin. Penyebab lain adalah pemakaian obat-obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), terutama pada pasien lansia. Medikasi ini mengganggu prostaglandin yang secara normal melindungi aliran darah renal, menyebabkan iskemia ginjal.

c. Pasca renal
Pascarenal yang biasanya menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat dari obstruksi di bagian distal ginjal. Tekanan di tubulus ginjal meningkat, akhirnya laju filtrasi glomerulus meningkat. Meskipun patogenesis pasti dari gagal ginjal akut dan oligoria belum diketahui, namun terdapat masalah mendasar yang menjadi penyebab. Beberapa factor mungkin reversible jika diidentifikasi dan ditangani secara tepat sebelum fungsi ginjal terganggu. Beberapa kondisi yang menyebabkan pengurangan aliran darah renal dan gangguan fungsi ginjal: (1) hipovolemia; (2) hipotensi; (3) penurunan curah jantung dan gagal jantung kongestif; (4) obstruksi ginjal atau traktus urinarius bawah akibat tumor, bekuan darah, atau batu ginjal dan (5) obstrusi vena atau arteri bilateral ginjal. (4)

3. Manifestasi Klinik
   Menurut Mansjoer (2001), manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal kronik adalah:
a. Umum: Fatiq, malaise, gagal tumbuh, debil.
b.  Kulit: Pucat, mudah lecet, rapuh, leukonikia.
c. Kepala dan leher: Rambut rontok, JVP meningkat.
d. Mata: Fundus hipertensif, mata merah.
e. Kardiovaskuler : Hipertensi, kelebihan cairan, gagal jantung, perikarditis, uremik,    penyakit vaskuler.
f. Pernafasan : Hiperventilasi asidosis, edema paru, effusi pleura.
g. Gastrointestinal : Anoreksia, nausea, gastritis, ulkus peptikum, kolitis uremik, diare yang disebabkan oleh antibiotic.
h. Kemih : Nokturia, anuria, haus, proteinuria, penyakit ginjal yang mendasarinya.
i. Reproduksi : Penurunan libido, impotensi, amenore, infertilitas, ginekosmastia, galaktore.
j. Saraf : Letargi, malaise, anoreksia, tremor, mengantuk, kebingungan, flap, mioklonus, kejang, koma
k. Tulang : Hiperparatiroidisme, defisiensi vitamin D.
l. Sendi : Gout, pseudogout, kalsifikasi ekstra tulang.
m. Hematologi : Anemia, defisiensi imun, mudah mengalami perdarahan.
n. Endokrin : Multipel.
o. Farmakologi : Obat-obat yang diekskresi oleh ginjal. (2)

4. Patofisiologi
Hipotesis Bricker (hipotesis nefron yang utuh)
“Bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal”. Berikut perjalan patologis terjadinya gagal ginjal kronik yang mnyebabkan Osteodistrofi pada ginjal.

5. Pemeriksaan Diagnostik
1.Laboratorium
   a. Pemeriksaan penurunan fungsi ginjal
      - ureum kreatinin
      -  asam urat serum
   b. Identifikasi etiologi gagal ginjal
      - analisis urin rutin
      - mikrobiologi urin
      - kimia darah
      - elektrolit
      - Imunodiagnosis
c. Identifikasi perjalanan penyakit
      - progresifitas penurunan fungsi ginjal
      - ureum kreatinin, klearens kreatinin test
         CCT = (140 – umur ) X BB (kg)
         72 X kreatinin serum
                wanita = 0,85
                pria = 0,85 X CCT
              - hemopoesis : Hb, trobosit, fibrinogen, factor pembekuan
              - elektrolit
              - endokrin : PTH dan T3,T4
              - pemeriksaan lain: infark miokard

2. Diagnostik
    a. Identifikasi perjalanan penyakit
       -Foto polos abdomen
       -USG
       -Nefrotogram
      -Pielografi retrograde
      -Pielografi antegrade
      -mictuating Cysto Urography (MCU)
   b. Diagnosis pemburuk fungsi ginjal
      -Renogram
      -USG( 4)

C.   Diagnosa keperawatan
a.       Kelebihan volume cairan  yang berhubungandengan penurunan keluaran urine, kelebihan diet, retensi natrium dan air.
b.      Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhana tubuh yang berhubungan dengan pembatasan diet, dan perubahan membrane mukusa oral.
c.       Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan regimen pengobatan
d.      Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan  keletihan,anemia,retensi produk sampah, prosedur dialysis
e.       Gangguan harga diri yang berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan dalam citra tubuh dan disfungsi seksual. (5)
D.Rencana Keperawatan
1.      Pengkajian
         Anamnesa untuk menentukan adanya Osteodistrofi Ginjal dilakukan untuk menentukan berbagai tolak ukur terjadinya Osteodistrofi Ginjal dengan kata lain mengumpulkan tanda dan gejala klinis Osteodistrofi Ginjal yang meliputi berbagai sistem dalam tubuh.
        Untuk menentukan osteodistrofi ginjal diperlukan berbagai data tentang riwayat penyakit pasien. Bila ada data yang menunjukan penurunan faal ginjal yang bertahap. aandyn04.blogspot.comDiagnosa tidaklah sulit. Pada pasien dengan GGK didapatkan keluhan-keluhan yang berbeda pada berbagai sistem dalam tubuh, diantaranya adalah:
·         Sistem gastrointestinal: ditemukan keluhan anoreksia, nausea dan vomiting, foetor uremik (nafas berbau amonia), cegukan, gastritis erosif, ulkus peptik bahkan kolitis uremik.
·    Kulit: kulit pasien akan terlihat pucat, gatal-gatal, terjadi ekimosis, terdapat bekas garukan akibat gatal-gatal.
·    Sistem saraf dan otot: terdapat keluhan klien merasa pegal pada kakinya, rasa semutan dan seperti terbakar, ensefalopati metabolik (lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi, tremor, asteriksis, mioklonus, kejang) dan miopati (kelemahan dan hipotrofi oto-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal).
·    Sistem kardiovaskuler: akan ditemukan adanya kenaikan tekanan darah dari normalnya(hipertensi), bisa juga ditemukan nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung (aritmia) dan terdapat edema.
·    Sistem endokrin: bisa didapatkan keluhan gangguan seksual (libido,fertilisasi dan ereksi menurun) pada laki-laki dan pada perempuan ditemukan adanya gangguan menstruasi, gangguan ovulasi sampai amenore. Gangguan metbolisme glukosa, resisitensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 mL/menit), terjadi penurunan klirens metabolik insulin yang menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang, gangguan metabolisme lemak dan gangguan metabolisme vitamin D.
· Pada pemeriksaan laboratorium bisa ditemukan penurunan eritropoetin, trombositopenia, fagositosis menurun, limfosit menurun, hiperfosfatemia, hiperkalemia, hipokalsemia dan asidosis metabolik.(3)
2.       Diagnosa keperawatan
 Diagnosa keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:
a. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penangan b/d kurang paparan informasi
b. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme pengaturan melemah
c. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan sensasi (pruritus)
d. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan menyeluruh
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d tidak mampu dalam memasukkan  makanan karena faktor biologi
f. Harga diri rendah situasional b/d perubahan peran sosial

3.      Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan untuk diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut:
a. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penangan b/d kurang paparan informasi.
Tujuan: meningkatkan pengetahuan mengenal kondisi dan penanganan yang   bersangkutan.
Intervensi
Rasional
1. kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal, konsekuensinya dan penanganannya.
2. jelaskan fungsi fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar.
3. bantu pasien untuk mengidentifikasi tentang cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya.
4. sediakan informasi baik lisan maupun tertulis mengenai kondisi, medikasi dan perawatannya.
5.
1. merupakan instruksi dasar untuk menjelaskan dan penyuluhan lebih lanjut.
2. pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk menerima diagnosis dan konsekuensinya.
3. pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak akan berubah akibat penyakitnya.
4. pasien memiliki informasi yang dapat digunakan untuk klarifikasi selanjutnya di rumah.
5.

b. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme pengaturan melemah
Tujuan: mempertahankan berat tubuh ideal tanpa ada kelebihan cairan.
Intervensi
Rasional
1. kaji status cairan:
- timbang berat badan
- keseimbangan antara masukan dan pengeluaran
- turgor kulit dan adanya edema
- distensi vena leher
- tekanan darah, denyut dan irama nadi
2. batasi masukan cairan
3. identifikasi sumber potensial cairan
- medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan oral dan intravena
- makanan
4. jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
5. bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan
6. tingkatkan dan dorong oral higiene dengan sering
1. pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi.
2. pembatasan cairan yang masuk dapat menentukan berat tubuh ideal, pengeluaran urine dan respon terhadap terapi.
3. sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi.
4. pemahaman meningkatkan kerja sama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
5. kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan cairan
6. higiene oral dapat mempertahankan kelembaban mukosa mulut

c. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan sensasi (pruritus)
Tujuan: tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Intervensi
Rasional
1. inspeksi kulit terhadap perubahan warna , turgor, vaskuler, kemerahan, ekimosis dan purpura.
2. pantau cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
3. inspeksi area terhadap edema
4. ubah posisi dengan sering (2 jam sekali), gerakan pasien perlahan berikan bantalan pada bagian yang menonjol
5. selidiki keluhan gatal-gatal
6. anjurkan klien menggunakan pakaian longgar
1. menandakan area sirkulasi buruk/kerusakan dapat menimbulkan infeksi.
2. mendeteksi adanya gangguan hidrasi dan dehidrasi berlebih yang mempengaruhi sirkulasi.
3. jaringan yang edema cenderung lebih mudah rusak/robek.
4. menurunkan tekanan pada edema dan memperbaiki sirkulasi ke daerah yang pengalami penekanan.
5. gatal-gatal dapat merangsang terjadi kerusakan pada kulit (kulit menjadai lecet akibat digaruk)
6. mencegah terjadinya iritasi langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit
7.

d. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan menyeluruh
Tujuan: berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat di toleransi
Intervensi
Rasional
1. kaji respon yang menimbulkan kelerihan; anemia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, retensi produk sampah dan dehidrasi.
2. tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditolerir
3. anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
4. anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis
1. menyediakan informasi tentang indikasi tingkat kelebihan
2. meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri
3. mendorong aktivitas dan latihan dalam batas yang dapat ditolerir dan istirahat yang adekuat
4. istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis yang bagi banyak pasien sangat melelahkan.

f.     aandyn04.blogspot.com  Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d tidak mampu dalam      memasukkan makanan karena faktor biologi
Tujuan: mempertahankan nutrisi yang adekuat
Intervensi
Rasional
1. kaki status nutrisi: perubahann berat badan, pengukuran antropometrik, nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kretinin, protein, transferin, dan kadar besi)
2. kaji pola diet nutrisi pasien: riwayat diet, makanan kesukaan, hitung kalori.
3. kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi: anoreksia, mual, muntah, diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi, kurang memahami membatasi diet, stomatitis.
4. tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi: telor, prodak susu dan daging.
1. menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi
2. pola diet dahulu dan Sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menĂº
3. menyediakan informasi mengenai faktor lain ynag dapat diubah atau di hilangkan untuk meningkatkan masukan diet
4. protein lengkap diberikan untuk mancapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan

g.      Osteodistrofi Renal
Intervansi
Rasional
1. Berikan medikasi berikut sesuai resep: pengikat fosfat, suplemen kalsium dan suplemen vitamin D
2. pantau nilai laboratorium serum sesusai indikasi (kadar kalsium, kalsium fosfor, aluminum) dan laporkan temuan abnormal pada dokter
3. bantu pasien dalam program latihan
1. gagal ginjal kronis menyebabkan sejumlah fisiologis yang mempengaruhi metabolisme kalsium, fosfat, dan vitamin D
2. hiperfosfatemia, hipokalsemia dan akumulasi aluminum berlebih umumnya pada gagal ginjal kronis
3. demineralisasi tulang meningkat akibat imobilitas(3)

 
DAFTAR PUSTAKA

 
1.      Price, Sylvia A.2002.PATOFISIOLOGI.Edisi6.EGC:Jakarta

2.      Anonymous.2009.KonsepDasarGagalGinjalKronik.http://masdanang.co.cc/?p=32.
       10/02/2010.03:34:3
3.      Anonymous.2009.osteo_distrofi_renal. http://www.sahabatginjal.com/display_articles.   
                   aspx?fname=komplikasi_pgk_osteoporosis2.htm.21/02/2010

4.      Anonymous.2009.Askep_Penyakit_Ginjal_Kronik.http://b11nk.wordpress.com/askep/.
9/02/2010.09:09:06

5.      Baughman,Diane C.2000.BukuSakuuntkBrunnerdanSudart.EGC:Jakarta