MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

MAKALAH

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

(ASPEK BUDAYA PADA BAYI BARU LAHIR)


KELOMPOK V

POLTEKKES KEMENKES MAKASAAR

2012/2013
 


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT . atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini , sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda kita Nabi besar Muhammad saw yang telah membawa umat-Nya dari zaman jahiliah menuju zaman islamiah.

Ucapan terima kasih pun tak lupa kami sampaikan kepada pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga hasil wawancara yang berbentuk makalah ini dapat memberi manfaat sebagai tambahan ilmu bagi yang membutuhkannnya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari standar kesempurnaan. Oleh karena itu kami membutuhkan saran dan masukan dari pembaca demi kebaikan makalah selanjutnya.


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Mitos-mitos yang lahir di masyarakat ini kebenarannya kadang tidak masuk akal dan bahkan dapat berbahaya bagi ibu dan bayi. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang merawat bayi baru lahir.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan di suatu daerah telah mendarah daging dan menjadi suatu ritual yang harus dilakukan. Oleh karena itu di sinilah tugas dan peran bidan untuk mengarahkan masyarakat menjadi manusia yang mengerti tentang kebudayaan tanpa menganggu kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi.

PEMBAHASAN

Aspek budaya pada bayi baru lahir di berbagai daerah.

1. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Makassar adalah sbb :

· Hidung ditarik-tarik agar mancung.
Tidak hubungannya menarik hidung dengan mancung tidaknya hidung, semua tergantung dari bentuk tulang hidungnya dan itu sudah bawaan.
Pemakaian gurita agar tidak kembung.

· Bayi bernapas dengan otot-otot pada perutnya. Jadi, memasangkan gurita justru manghambat pernapasannya. Perutnya yang kembung sudah bentuk alamiah.
Jika memang harus memakaikan gurita jangan mengikat terlalu kencang terutama di bagian dada agar jantung dan paru-parunya bisa berkembang dengan baik. Dan jika tujuannya supaya pusar tidak bodong sebaiknya di pakaikan hanya di pusar dan ikatannya pun tidak kencang.

· Menggunting bulu mata agar lentik.
Bulu mata berfungsi melindungi mata dari gangguan benda-benda asing. Jika dipotong, fungsinya tidak lagi dapat bekerja secara optimal. Panjang pendeknya bulu mata sudah menjadi bawaan dari bayi itu sendiri.

2. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Barru adalah sbb :

· Setelah ibu melahirkan ari-ari bayi tersebut digunting untuk dipisahkan dengan ibunya, kemudian segera dicuci bersih agar tidak berbau. Selanjutnya ari-ari tersebut disucikan lalu disimpan di tempat-tempat plastik lalu ditaburi abui dapur,garam, dan kunyit agar menghilankan bau lalu ditutup rapat dan dibungkus kain kafan dan diletakkan di atas talang dan selanjutnya dikubur bersama kelapa yang bertunas. Dan 7 hari setelah bayi dilahirkan harus segera dihakikah.

3. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Bulu Kumba adalah sbb :

· Pada waktu lahir biasanya disuapi potongan tali pusar dimulut bayi supaya dia tidak sombong ketika besar. Ari-ari dibersihkan (diberikan garam,)dimasukkan kekaleng atau panci terbuat dari tanah, bungkus daun pisang dan diikat dengan benang kemudian ditanam dibawah pohon kelapa supaya ilmunya tinggi seperti pohon kelapa, kalau malam dikasih lilin (7 hari supayah diterangi dalam hidup) tujuh hari hakikah digunting rambut ,ubun-ubunnya diberikan obat paccompo buhun terbuat dari beras supaya bayi itu panjang umur dan muda rejeki.

4. Aspek kebudayaan pada bayi baru lahir di daerah pangkep yaitu sbb :

· Ari-ari (plasenta) bayi atau yang biasa disebut lolonna ana’loloe dianggap sebagai kembaran si bayi. Jadi ari-ari bayi tersebut sebelum dikuburkan harus dicuci bersih terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan kedalam toples atau guci kecil yang terbuat dari tanah. Apabila tidak demikian konon katanya roh dari ari-ari ini akan selalu mengganggu si bayi sehingga bayi tersebut selalu menangis (rewel). Dan sebelum ari-ari tersebut dikuburkan, biasanya dipersembahkan sesajen sebagai pengantarnya, dan katanya supaya roh ari-ari tersebut senang. Maksud dan tujuan dari penguburan ari-ari yang sakral ini supaya kelak si bayi tumbuh menjadi pribadi yang baik. Dan biasanya pada tempat dimana ari-ari tersebut dikuburkan ditanamkan kelapa bertunas diatasnya sebagai penanda.Aspek budaya lain pada bayi yang baru lahir yaitu seoarang bayi tidak boleh dbuat kaget, karena ia sangat sensitif dan katanya mudah melihat mahluk halus yang akan mengusiknya sehingga akan rewel.

5. Aspek kebudayaan pada bayi baru lahir di daerah Gowa :

· Setelah ibu melahirkan segera diletakkan belut diatas tubuh bayi, supaya tidak penyakitan, ubun-ubunnya tidak boleh dipegang karena bayinya akan mudah menangis karena merasa dirinya mau dibunuh (dicelakai). Selain itu pada bayi baru lahir hidungnya ditarik supaya mancung, bayi baru lahir tidak boleh dibawa keluar rumah jika umurnya belum cukup 1 bulan karena rentan terkena penyakit dan mudah diganggu makhluk halus.

6. Aspek kebudayaan pada bayi baru lahir di daerah Soppeng adalah sbb :

· Setelah bayi lahir dukun segera memotong ari-ari bayi dan membasuhi pusar bayi dengan arang yang berasal dari tempurung kelapa yang telah dibakar. Ini dilakukan agar tali pusar bayi yang telah di potong tadi cepat mengering dan tali pusar yang masih tersisa di pusar bayi cepat lepas. Kemudian ari-ari bayi dicuci bersih,diberikan garam dapur dan asam secukupnya. Selanjutnya dimasukkan di dalam panci yang terbuat dari tanah liat. Panci ini dibungkus dengan kain kafan sebelum dikubur di dalam tanah bersamaan dengan kelapa yang memiliki pucuk. Ini dilakukan agar ari-ari bayi lebih dihargai keberadaanya, karena menurut mitos ari-ari adalah kembaran si bayi. Maka ari-ari bayi dicuci agar tetap suci meski telah berada jauh dengan kembarannya.

7. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Bone adalah sbb :

· Setelah ari-ari bayi terlepas dengan bayi yang baru saja dilahirkan, segeralah ari-ari itu dicuci bersih. Kemudian ari-ari bayi dibungkus dengan daun pisang dan ditanam bersama tunas kelapa, ini dilakukan supaya ari-ari tidak diganggu oleh makhluk halus dan tunas kelapa merupakan tolak ukur pertumbuhannya dari bayi hingga dewasa. Menurut kepercayaan jika kelapa tidak tumbuh maka bayipun tidak berkembang dengan baik atau bahkan meninggal.

8. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Sinjai adalah sbb :

· Ari-ari bayi dicuci bersih, kemudian disimpan di dalam kaleng dan dikubur bersama tunas kelapa, menurut mitos ini dilakukan agar bayi tidak diganggu makhluk halus.

9. Aspek budaya pada bayi baru lahir di daerah Camba :

· Ari-ari bayi segera dikubur di dalam tanah tanpa dicuci terlebih dahulu dan di atasnya diletakkan batu dan ditancapkan dengan kayu supaya tidak dilangkahi. Karena ketika dilangkahi bayi akan sakit atau mudah diganggu makhluk halus. Dan bayi harus segera dihakikah satu hari setelah dilahirkan

Pemberian Sebuah Nama Pada Bayi

Nama merupakan identitas, entah bagi makhluk hidup maupun makhluk tidak hidup. Ada pepatah yang mengatakan apalah arti sebuah nama. Namun hal tersebut nampaknya tidak berlaku di Indonesia. Sesuai dengan budaya di Indonesia, pemberian nama kepada anak tidak dilakukan secara asal, tetapi dengan suatu pemikiran yang memiiki filosofi. Dengan pemikiran itulah maka dalam memberikan nama kepada anak, orangtua pasti berpikir untuk memberikan nama yang terbaik untuk anak mereka.

Dengan keanekaragaman budaya, religi, wilayah,dan bahasa yang ada, menyebabkan penciptaan nama yang berbeda pada tiap individu. Tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat nama yang sama pada suatu unsur nama pada orang yang berbeda..

Setiap orangtua memiliki cara yang berbeda dalam memberi nama kepada anak mereka. Tidak mengherankan jika nama seseorang memiliki karakteristik , karena dalam nama seseorang bisa saja terkandung memori, harapan, dan fakta yang berbeda pada tiap individu..

Karakteristik nama bisa dibedakan menjadi tiga aspek, antara lain memori, harapan, dan fakta. Aspek memori berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Aspek harapan berkaitan dengan doa yang terkandung dalam nama itu. Aspek fakta berkaitan dengan realitas yang ada pada anak yang diberi nama.

Pada aspek pertama, pemberian sebuah nama dari segi memori. Memori pada sebuah nama berkaitan dengan misalnya tanggal-bulan-tahun kelahiran, nama keturunan, nama gabungan kedua orangtua, serta memori akan budaya yang berhubungan dengan bahasa. Ada beberapa alasan mengapa memori menjadi karakteristik sebuah nama. Pertama, pemberian nama ini biasanya tidak lepas dari peristiwa atau kenangan ketika anak dilahirkan. Kedua, hal lain yang menjadi alasan pemberian nama sebagai memori yaitu kebahagiaan orangtua tentang kelahiran anak mereka sehingga mereka menyelipkan nama gabungan mereka di dalam nama anak mereka. Ketiga, memori untuk menghargai bahasa yang sudah jarang digunakan misalnya bahasa jawa kuno atau bahasa sansekerta, Keempat, memori karena nama yang dimintakan, contohnya dalam hal ini adalah kakek yang ingin cucunya diberi nama sesuai keinginannya.

Pada aspek kedua yaitu harapan. Ketika orangtua memberi nama kepada anak, sudah tentu terdapat doa dan harapan dalam nama tersebut. Orangtua berharap anak dapat memiliki kepribadian yang baik serta nasib bagus sesuai dengan namanya. Meskipun karakteristik anak tidak tergantung dari nama yang dimiliki, tetapi paling tidak, dengan anak mengetahui arti namanya. Sehingga anak bisa mengerti mengenai harapan orangtua kepada dirinya dan anak terpacu untuk bertindak secara lebih baik sesuai harapan orang tua yang secara implisit terdapat dalam nama.

Aspek ketiga dalam pemberian nama adalah fakta. Fakta yaitu realitas yang terjadi. Hal ini bisa menjadi semacam deskripsi atau penggambaran anak. Bisa saja nama berdasarkan fakta hanya sebuah panggilan saja, maksudnya yaitu bukan bagian dari nama itu.

Dalam pemberian sebuah nama banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Diantaranya yaitu aspek memori, aspek harapan, dan fakta. Sebuah nama bisa menggambarkan perpaduan unsur Budaya. Misalnya dengan mayoritas penduduk Indonesia yang Islam, banyak masyarakat yang memasukkan unsur Bahasa Arab kepada anak mereka. Selain itu tentang banyak pula penggunaan Bahasa Jawa Kuno sebagai sebuah nama. Dari segi harapan, meskipun arti sebuah nama tidak bisa menjadi karakter seseorang, paling tidak nama tersebut bisa menjadi sebuah doa untuk menjadi lebih baik. Dari segi fakta, tidak ada salahnya jika dalam memberikan nama sesuai dengan deskripsi atau penggambaran anak.

Pemotongan Tali Pusat

Pemotongan Tali Pusat

Tali pusat merupakan garis kehidupan janin dan bayi selama beberapa menit pertama setelah kelahiran. Pemisahan bayi dari placenta dilakukan dengan cara menjepit tali pusat diantara dua klem, dengan jarak sekitar 8-10 cm dari umbilikus. Kassa steril yang dilingkarkan ke tali pusat saat memotongnya menghindari tumpahan darah ke daerah persalinan. Tali pusat tidak boleh dipotong sebelum memastikan bahwa tali pusat telah diklem dengan baik. Kegagalan tindakan tersebut dapat mengakibatkan pengeluaran darah berlebih dari bayi. Cara perawatan tali pusat dan puntung tali pusat pada masa segera setelah persalinan berbeda-beda, bergantung pada faktor sosial, budaya, dan geografis. Waktu optimal untuk penjepitan tali pusat setelah persalinan masih belum jelas. Beberapa pusat persalinan menganjurkan menunda pemotongan tali pusat hingga pernapasan bayi stabil dan pulsasi berhenti hingga memastikan bahwa janin telah mendapatkan transfusi placenta sebanyak 70 ml darah.akan tetapi pendapat ini dibantah oleh para ahli yang berpendapat bahwa transfusi placenta yang didapat dengan cara demikian dapat mengakibatkan ikterus pada neonatus. Hal yang disepakati bersama bahwa bayi aterm dapat diletakkan diatas perut ibu, tetapi tidak terlalu tinggi dan bayi prematur dapat diletakkan setinggi placenta. Hal ini disebabkan jika bayi prematur diangkat melebihi tingi placenta dapat menyebabkan anemia, dan jika bayi diposisikan lebih rendah dari placenta dapat mengakibatkan bayi menerima transfusi darah (Pusdiknakes, 2003).

Langkah-langkah dalam menjaga kebersihan pada saat memotong tali pusat menurut Pusdiknakes (2003):

a. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, serta mengenakan sarung tangan sebelum menolong persalinan

b. Pastikan bahwa sarung tangan masih bersih. Ganti sarung tangan bila ternyata sudah kotor

c. Letakkan bayi yang telah dibungkus tersebut diatas permukaan yang bersih dan hangat

d. memotong tali pusat dengan pisau silet, pisau atau gunting yang steril atau telah didesinfeksi tingkat tinggi

e. pakailah hanya alat dan bahan yang steril

f. jangan mengoleskan salep apapun, atau zat lain ke tampuk tali pusat

g. hindari pembungkusan tali pusat


PENUTUP
KESIMPULAN

Dalam menghadapi mitos-mitos yang telah berkembang di masyarakat, kita harus mengadakan adanya suatu promosi kesehatan, salah satunya berupa penyuluhan. Bidan berperan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh masyarakat terkhusus bagi para ibu nifas agar dapat memberikan yang terbaik untuk sang bayi.

Materi penyuluhan ialah yang berkaitan dengan mitos-mitos yang merugikan sedangkan kita memberikan bimbingan pada masyarakat tentang mitos baik yang tetap diyakini agar tak ada kesalahpahaman dalam mengartikan mitos yang ada. Karena kebudayaan antara suatu daerah dengan daerah lainnya berbeda-beda.

Ada baiknya bagi para ibu nifas untuk melakukan konsultasi kepada para bidan agar dapat menentukan yang terbaik untuk kesehatan dan tumbuh kembang sang bayi.

0 Response to "MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR"

Post a Comment

Left your comments here without SPAM and No Live Link !!